Sejarah GKKK Semeru Malang

Sejarah

Dulu pada 28 Mei 1967 berawal dari Sekolah Kristen Kalam Kudus yang berada di Jalan Mohammad Yamin di dekat pasar besar. Yang membeli suatu gudang di Jalan Semeru, lalu di era kepemimpinan Pdt. Peter Chandra direnovasi menjadi lebih baik, kemudian dilanjutkan oleh Pdt. Timotius Witarsa direnovasi lagi, dan sekarang direnovasi kembali oleh Pdt. Tikijo Harjowono. Sekarang menjadi lebih baik oleh penyertaan dari Tuhan. Sekarang Gereja Kristen Kalam Kudus tidak hanya ada di Jalan Semeru tetapi juga ada di Sekolah Kristen Kalam Kudus yang dulunya adalah sekolah saya. Dan Pendiri gereja tersebut adalah pemimin gereja yang pertama kali.

Para Majelis

Semua gereja pasti memiliki majelis yang akan melakukan pelayanan untuk orang-orang yang belum percaya, maupun yang sudah percaya, yaitu:
1. Pdt. Titus Liem sebagai Ketua
2. Pdt. Tikijo Harjowono
3. Matius Sisanto
4. Buyung Baniwijaya
5. Lesmono Tarno
6. Teguh Prakoso
7. Roy Meantoro
8. Daniel Chandra
9. Yahya Adi Purnomo Gunawan
10. Hanna Moehandini
11. Cindy Diah Prameswari
12. Tiendrawati Sindharta
13. Lany Claudiah Suryato
14. Rita Cokrowardoyo
15. Sri Iriani Puguh
16. Yoel
17. Iwan
18. Subur Parianto
19. Surya Suroso
20. Hari Soesilo
21. Simon Josaphat
Sebagian besar dari majelis di gereja saya adalah orang yang sudah menetap di GKKK Semeru.

Para Pemimpin Gereja

1. Pdt. John Chung(1967-1972)
2. Pdt. Peter Chandra(1972-1977) Renovasi Pertama
3. Pdt. Timotius Istanto(1977-1984)
4. Pdt. Max Prayogianto(1984-1992)
5. Pdt. John Liem(1992-1995)
6. Pdt. Timotius Witarsa(1995-2002) Renovasi Kedua
7. Pdt. Titus Liem(2002-2007)
8. Pdt. Tikijo Harjowono(2002-2007) Renvoasi Ketiga



Para pemimpin gereja tersebut dibantu oleh para majelis untuk mengatur GKKK Semeru.

Pelayanan


Pelayanan Jemaat, Majelis, maupun Pendeta adalah sesuatu yang sangat bersifat social, seperti mengunjungi panti asuhan, mengunjungi korban bencana alam, dll. Mereka tidak memberi pelayanan dahulu kalau mereka belum siap untuk itu. Maka dari itu ada hal yang disebut ”ditahbiskan” untuk meyakini bahwa mereka akan setia kepada Tuhan dan melakukan pelayanan orang lain dan juga guru bagi pengalaman diri orang itu sendiri. Mereka mengajarkan bagaimana cara untuk melayani sesama manusia.
Di gereja saya ada beberapa kelompok kecil yang akan mengadakan persekutuan, yaitu: 1. Sekolah Minggu(Play Group, TKK, dan SD)
2. Remaja(SMP dan SMA)
3. Pemuda(SMA dan Kuliah)
4. Kebaktian umum(Umum)
Dan pada setiap hari Rabu malam diadakan persekutuan kecil yang akan diadakan pada setiap wilayah yang sudah ditentukan gereja.

Yosie Kristanto Selasa, Juni 02, 2009
Kisah Perjalanan ke Porong

Kisah Perjalanan

Kisah perjalanan ini dimulai dari sekolah pada pukul 06.30 dan kita berangkat pada pukul 07.00. Kita pun langsung berangkat menuju GKJW Porong. Di sana kami disambut dengan baik oleh orang-orang GKJW Gempol yang sedang tidak bekerja. Lalu oleh Bpk. Mahmud Heru dijelaskanlah tentang sejarah gereja GKJW Gempol. Lalu diteruskan dengan penjelasan dari Pdt. Heru Chokro tentang sejarah gereja itu. Lalu oleh beberapa jemaat gereja tersebut kami disuguhi es belewah dan donat yang lezat sekali.
Lalu kemi melanjutkan perjalanan dengan diantar Pdt. Heru Chokro dan salah satu jemaat GKJW Gempol. Pertama-tama kami terjebak macet di daerah sungai Porong. Lalu mobil kami pun mencari jalan pintas. Kita menemukan jalan pintas itu, karena mobil dari T. Veby mendahului kita. Kitanpun mengikutinya dan kami melalui Pasat Baru Porong yang dibuat tempat pengungsian.
Setelah itu kami sampai di posko pengungsian anak remaja. Di sana kami langsung menurunkan barang-barang yang sudah kami kumpulkan selama satu minggu. Lalu mereka menyambut kami dengan sangat baik. Di dalam rumah teman-teman remaja sedang sibuk latihan untuk acara ini. Di sana Patrick dan Ayu menjadi MC nya. Lalu teman-teman 8B pun mempersembahkan lagu gubahan Totok. Lalu mereka juga mempersembahkan lagu yang sangatlah enak didengar karena suara mereka bagus-bagus. Lalu kami disuguhi makanan prasmanan dan es blewah lagi. Kami pun berpamitan pulang. Dan kami langsung pulang ke Malang. Disana Kelompoknya T. Stefanus datang pertama. Begitulah kisah perjalanan kemi.



Peranan Gereja


Peranan gereja adalah beberapa peranan gereja untuk membantu orang-orang sekitarnya.
Peranan GKJW Gempol dibagi menjadi 2, yaitu:
1. Intern
Beasiswa bagi warga yang kurang mampu,
Tim Tanggul Bencana yang didukung oleh GKJW Gempul,
Santunan bagi warga kurang mampu,
Donor darah,
Pengunjungan orang sakit.

2. Extern
Tempat Badminton bagi warga sekitar,
Balai Pamitian bagi acara-acara,
Jalan Pintas untuk pergi ke pasar,
Dana bantuan bagi panti asuhan muslim,
Bekerja sama dengan tim tanggul becana.

Di atas adalah beberapa contoh peranan gereja.

Sejarah Gereja


Sejarah GKJW Gempol dimulai dari 4 kepala keluarga yang ingin membangun siuatu tempat ibadah. Lalu mereka menumpang di SPIB Surabaya yang dibantu oelh GKJW Kliwen. Pada Januari 1961 mendapat anugrah Tuhan untuk beribadah bersama-sama. Mereka mencoba untuk merayu orang yang dekat dengan pemerintahan. Dan oleh tetuanya diberi tempat kecil untuk melaksanakan ibadah. Pada 5 November 1957 sampai 14 Januari 1969 mereka mencoba untuk membangun yang lebih baik. Pada Januari 1969 sampai Januari 1970 adalah proses untuk membangun gereja dan gereja tersebut belum diresmikan oleh pemerintah.
Pada 25 Desember 1970 dilaksanakan sidang, akhirnya Gempol diresmikan menjadi gedung gereja.
Pada 25 Januari 1981 dilaksanakan sidang dan diresmikan menjadi jemaat.
Dan sampai sekarang gereja itu berkembang untuk melayani Tuhan dan masyarakat.

Pelayanan

Pelayanan gereja dibagi menjadi tritugas, yaitu: Persekutuan, Pelayanan, dan Kesaksian.
Lalu Beberapa pelayanan gereja terpecah menjadi 13, yaitu:
1. KPT(Komisi Pembinaan Teologia)
2. KUK(Komisi Urusan Katekisasi)
3. KPAR(Komisi Pembinaan Anak Remaja)
4. KPPM(Komisi Pembinaan Pemuda Mahasiswa)
5. KPAY(Komisi Pembinaan Adi Yuswo)
6. KPPW(Komisi Pembianaan Peranan Wanita)
7. KPPUO(Komisi Pelayanan Umum dan Orkumene)
8. KPK(Komisi Pembinaan Kesaksian)
9. KUK(Komisi Urusan Kematian)
10. KPPL(Komisi Pembinaan Penatulayanan)
11. KURTG(Komisi Urusan Rumah Tangga Gereja)
12. KPPJ(Komisi Pengawasan Perbehandaraan Jemaat)
13. KomPerLitBang(Komisi Perencanaan Penelitian Pengembangan)


Perjalanan Ke Porong 11/5/2007

Yosie Kristanto
Perjalanan Menuju Tengger

Pada Juni 2006, aku beserta ayahku dan murid-murid ayahku melakukan perpisahan kelulusan mereka. Kami berencana pergi ke Gunung Bromo dan menginap di sana satu hari satu malam. Kita merasa lebih menyatu jika melakukan acara seperti ini. Ayahku adalah wali kelas IPA 2 di SMAN 6 Malang yang mau menghadapi kelulusan. Kita memulai perjalanan dari rumah salah satu murid bapakku. Di sana kita tidak lupa melakukan doa bersama menurut agama masing-masing.
Kita berangkat melalui Lawang lalu kita juga melewati jalan yang berkelak-kelok dan menanjak dan kita akhirnya sampai di Penanjakan. Di sana kita bisa melihat Gunung Batuk, Gunung Bromo dan Gunung Semeru. Akhirnya, setelah puas berfoto ria, kami pun melanjutkan perjalanan ke Gunung Bromo. Kami melewati padang pasir yang terbentang luas. Aku sudah mulai mencium bau belerang dari gunung-gunung tersebut. Aku juga melihat banyak mobil Jeep yang berlalu-lalang di padang pasir nan sejuk ini. Kita sudah bisa melihat Gunung Bromo yang diselimuti asap. Aku juga sudah melihat orang-orang Tengger yang bekerja maupun ke Pura yang dekat Gunung Bromo itu. Pura itu dibuat di dekat Gunung Bromo untuk merayakan ritual-ritual khusus. Salah satunya ketika musim panen mereka mengumpulkan hasil panennya lalu mereka bersama-sama membawa persembahan tersebut ke Pura terdekat tersebut untuk didoakan lalu mereka akan membawa persembahan tersebut dan memasukkannya ke kawah Gunung Bromo bersamaan.
Kita berfoto dulu di depan Gunung Bromo dan kita melanjutkan perjalanan ke penginapan kami. Dan kami sudah memiliki rencana untuk melihat mata hari terbit. Dan malam ini kami akan main games outbond di padang pasir yang gelap itu. Aku sedikit takut karena aku tidak bisa melihat apa-apa di padang pasir tersebut. Disana kami menyembunyikan bendera dan 3 orang yang aku tunjuk akan mencari bendera tersebut dalam keadaan gelap. Rupanya permainan ini melelahkan juga. Sampai-sampai aku dan bapakku sesak napas saking capeknya dan gara-gara bau belerang masuk ke dalam paru-paru ini. Kami pun kembali ke penginapan untuk istirahat, karena besok pagi kami akan melihat matahari terbit di balik gunung-gunung di sana. Pagi-pagi sekali kami berangkat dari penginapan ke Gunung Bromo dengan berjalan kaki. Udara sangat dingin sekali sampai-sampai aku memakai jaket berlapis tiga. Di perjalanan kita sudah bisa melihat matahari yang mau terbit tersebut.
Kami sudah puas melihat matahari terbit dan kami akan naik ke Gunung Bromo yang tidak terlalu tinggi ini. Sebenarnya Gunung Bromo lumayan tinggi jika gunung ini belum meletus. Sebelum meletus Gunung Bromo tidak boleh dimasuki oleh orang lain karena dianggap suci. Kami berfoto bersama di sana. Lalu kami berencana pulang pagi ini, sehingga kami datang di Malang tidak terlalu malam.
Pulangnya kami tidak melewati padang pasir tersebut, karena kami berencana lewat pasuruan supaya tidak bosan. Perjalanan ditempuh selama dua jam lima belas menit. Kami sampai di Malang dan kembali ke rumah salah satu murid bapakku dan mengucapkan syukur karena Tuhan sudah memberi keselamatan bagi kami semua. Setelah mengucapkan salam perpisahan kami pun pulang ke rumah masing-masing. Perjalanan seperti ini dapat meringankan beban pikiran kita. Jika anda mau mencoba ke GUnung Bromo silahkan. Selamat bersenang-senang.

Yosie Kristanto
Haruskah Membuang Sampah di Sungai?

Masih banyak anggota masyarakat yang masih membuang sampah di sungai. Mereka tidak menyadari kalau hal tersebut akan merugikan masyarakat itu sendiri dan juga akan mencemari lingkungan.
Membuang sampah di sungai akan berakibat banjir dan juga merupakan sumber penyakit. Kesadaran masyarakat untuk sadar kebersihan perlu dibangun sedini mungkin agar kemungkinan-kemungkinan buruk yang akan terjadi bisa ditanggulangi bahkan di hinari. Seringkali masyarakat di sekitar sungai sajalah yang dipersalahkan atas kekotoran yang terjadi di sungai, padahal kebersihan adalah tanggung jawab kita bersama dan untuk kepentingan kita bersama.
Sungai merupakan salah satu unsur yang berkaitan erat dalam hidup manusia, sungai menpunyai fungsi penting dalam kehidupan seperti untuk mandi, minum, mencuci dan lain sebagainya. apabila unsur penting ini tidak terjaga dengan baik maka siklus kehidupan secara tidak langsung akan terhambat perputarannya. Hal ini tentunya akan merugikan semua pihak.
Kita patut menanamkan rasa peduli terhadap lingkungan mulai dari sekarang, tidak ada kata terlambat bila kita mau membenahi sungai-sungai kita yang kotor. Berawal dari hal yang sederhana semuanya bisa dimulai. Seperti, menghilangkan budaya membuang sampah seenaknya dan mulai peduli bila ada bungkus makanan atau plastik yang berserakan. Bila setiap orang sadar dan peduli terhadap kebersihan maka secara tidak langsung budaya bersih akan tertanam dengan sendirinya sampai anak cucu kita nantinya.
Lingkungan yang bersih merupakan warisan yang tidak ternilai harganya. Tidak ada salahnya bila mulai sekarang kita peduli terhadap kebersihan lingkungan, karena lingkungan adalah sahabat kita.

Yosie Kristanto
Kesetiaan Rumero

Kakek: “Dia Anakku”
Suara itu muncul dari seorang kakek tua yang adalah ayah dari Rumero.
Kakek: “Anakku , mengapa sejarah harus begini?”
Kakek: “Semua orang tak tahu mana yang penjahat dan mana yang pahlawan”
“ Mengapa kebenaran harus kalah, anakku”
Seseorang menatap lelaki tua itu, dia sahabat Romero. Lalu dia melemparkan sebuah kain putih yang kusam. Lalu dia pergi ke bukit untuk melihat eksekusi dari sana. Mungkin dia tidak mampu menahan kesedihannya.
Lelaki tua yang bagai titik hitam menoleh ke belakang, seakan tak mau melihat eksekusi.
Lalu Sahabat Romero itu berteriak.
Sahabat: “Romero tak berbapak dan beribu. Kini dia sudah tiada. Tiada seorangpun yang
bisa meneruskan perjuangannya.”

Dia menangis. Sebuah kecengengan yang dia tak kutahan demi sebuah penghormatan kepada seorang rekan yang berjuang. Tangannya merogoh kantung yang tergantung di pinggang. Selembar surat dari Rumero, saat Rumero pergi. Sebulan menjelang kematian yang mengerikan: eksekusi.

Buat Dermandez, saudaraku di dalam perjuangan suci,
Aku memang menginginkan engkau membacakan surat ini saat engkau mendapati aku telah pergi dengan nyawaku. Tak ada yang lebih diinginkan oleh orang yang berada di depan garis depan perjuangan, kecuali meninggalkan pesan melalui surat buat seorang yang dekat. Aku tak punya kekasih, Mandes: kecuali Tuhan. Demikianlah, aku percaya engkau akan membacakan surat ini. Surat yang diberikan aleh seorang pejuang kepada pejuang muda yang aku yakin akan meneruskan suara lati nurani ini. Aku terlalu tua, Mandes. Terlalu lemah dan tak lagi sigap juga :ekatan dalam berjuang.
Di distrik Rumeira, aku lahir dan dibesarkan oleh kemanjaan kanak. Waktu kemudian nembawaku pada sebuah pilihan. Meninggalkan ayah yang terus menangisi ibu yang adi korban perkosaan penguasa busuk yang memberikanku seribu dendam. Ibuku /ang bunuh diri demi keinginannya untuk mempertahankan sebuah kesucian.
5urat ini kutitipkan melalui kurir muda yang aku percaya, Mandes. Kurir yang cuharapkan engkau pun akan memberinya ilmu perjuangan kelak. Memberikanya lurani untuk membela orang yang lemah. Tuhan bersama kita, Mandes. Karena itu uga, aku mengharapkan engkau datang walau hanya untuk satu tujuan yang ;ekejap. Melepasku dengan doa dan salam perjuangan. Engkau selalu bersama Tuhanmu dan tangisan rakyat yang meniadi peluru bagi perjuangan kita.
Rumero sudah dieksekusi. Lalu sahabatnya pun menuruni bukit untuk membawa mayat Rumero. Rupanya Rumero sudah dibawa oleh lelaki tua den berkata.
Kakek: “Dia anakku. Anakku Tuhan.”
Sahabat Rumero memanggul Rumero.

Terlalu banyak cerita di masa depan yang belum terjawab. Bisa jadi kami pun akan digantung nanti. Bisa jadi mayat si bapa atau mayatku atau juga akan terseret seperti ini. Atau lebih parah, dimakan daging dan bola matanya oleh burung nazar sebagaimana mayat-mayat para pejuang tak dikenal yang pernah kam lihat sebelumnya di setiap distrik para penguasa lalim. Di masa depan, barangkali masih ada pembunuhan yang juga akan dilakukan secara diam-diam. Terhadap manusia. Terhadap para pahlawan yang dianggap sebagai bajingan karena berteriak tentang kebenaran dan Tuhan.
Sahabat: "Sebentar lag! kita tiba di bukit itu, Bapa. Di antara pohon-pohon pinus kering, jenazah pahlawan kita baringkan,"
Si Bapa mengangguk. Aku juga mengangguk.
Sebentar lagi badai berpasir, kami harus cepat menimbun si mayat dalam-dalam sebelum badai dan burung nazar tahu bahwa di tempat ini baru saja ada kematian.

di modifikasi oleh:yosie
alex
bella
angel

Yosie Kristanto
Lelaki Berambut Gimbal

<p>Suatu hari hiduplah sebuah keluarga yag sangatlah miskin. Mereka tidak punya apapun. Untuk dijual pun tak ada. Di keluarga itu ada 6 orang anak yang diasuh oleh Pak Jiad dan Bu Yiko. Anak-anak itu tidak besekolah, tapi beberapa dari mereka seharusnya sangatlah pintar jika disekolahkan. Setiap hari mereka menganggur di rumahnya yang lusuh. Tidak melakukan apapun juga. Suatu hari pemerintah berjanji kalau akan diadakan bantuan raskin. Pak Yiad dan Bu Yiko sebenarnya tak mau mengambil raskin tersebut karena mereka sudah berkali-kali datang tapi tak dapat, tetapi anaknya memaksa karena ank-anak tersebut lapar. Akhirnya, Pak Yiad dan Bu Yiko berangkat ke tempat yang dijanjikan oleh pemerintah.</p>
<p>Anak-anak Pak Yiad dan Bu Yiko menunggu dengan perut keroncongan. Sementara itu, Pak Yiad dan Bu Yiko terjbak dan memanggang diri mereka sendiri di tengah kerumunan orang yang ramai dan di tengah terik matahari. Di sana ketika tinggal satu orang mengantri di depan mereka, ada seorang lelaki sinting yang berambut gimbal menerombol barisan depan. Pak Yiad yang saat itu tak bisa menahan emosi langsung mengeluarkan pisau sederhana yang ada di ikat pinggangnya itu. Lelaki sinting itu tak tau bahwa yang dipegang Pak Yiad adalah pisau, jadi dia tetap saja ngeloyor malahan dia mengambil dan memakainya untuk memotong rambutnya yang gimbal. Karena lelaki sinting itu Pak Yiad rugi besar karena selain mereka belum dapat raskin, Pak Yiad juga kehilangan pisau kesayangannya, lenyap ditelan bumi.</p>
<p>Semua orang mendapat giliran, semua orang dapat makan nasi hari ini. Yang kaya, yang miskin. Seharusnya oang miskin saja yang diberi raskin, tidak orang-orang yang kaya. Malamnya Pak Jiad dan Bu Yiko pulang dengan membawa beras sekantong dan segera memasaknya dengan keluarga. Sekeluarga sudah kenyang nasi itu lenyap atau habis. Mereka memakai setengah kantong beras untuk nasi yang mereka makan, sisa setengah kantong, untuk besok.</p>
<p>Paginya, keluarga itu kebingungan karena nasi yang tinggal setengah kantong lenyap dan mereka menemukan uang 50.000 rupiah yang jatuh di depan rumah mereka. Keluarga itu tidak mau lancang, mengambil barang milik orang. Mereka segera ke kantor polisi yang sepi dan melaporkan bahwa mereka menemukan uang sejumlah 50.000 rupiah. Kepala polisi itu kagum oleh kejujuran keluarga itu dan meminta nama mereka. Malamnya, keluarga itu kelaparan karena mereka tak memiliki beras atau apapun untuk mereka masak.</p>
<p>Keesokan harinya, mereka menemukan uang berjumlah 100.000 rupiah di depan rumahnya. Lalu mereka melaporkan hal yang aneh itu kepada kepala polisi. Mereka mengeluh kepada kepala polisi kalau mereka tak memiliki beras untuk dimasak. Mereka dengar ada pembagian raskin lagi, besok.</p>
<p>Esok harinya, Pak Yiad pergi ke kantor kelurahan untuk mengambil raskin, Bu Yiko sakit dan tidak bisa mengantarkan Pak Yiad yang mengambil raskin. Hari itu keluarga itu tidak mendapat raskin karena kehabisan jatah. </p>
<p>Esoknya, keluarga Pak Yiad dipanggil ke kantor polisi dan disuruh menghadap kepala polisi. Kepala polisi berterima kasih kepada Pak Yiad karena Pak Yiad telah menyadarkan orang berambut gimbal yang ternyata seorang pengusaha itu. Pak Yiad segera diberi hadiah oleh orang berambut gimbal itu dan boleh tinggal di rumah orang berambut gimbal itu.</p>
<p>Keluarga Pak Yiad sangatlah bahagia. Setiap hari mereka makan daging sapi yang lezat. Aku melihatnya, melihat kebagiaan di wajah seseorang. Kebahagiaan yang tak biasa tertandingi. Tiap hari mereka mandi dan memakai minyak wangi yang sangat wangi. Sedangkan aku, tinggalah kenangan.<br><br><br></p>
<p>Keterangan</p>
<p>Alur menurut kuantitas: Alur Ganda.</p>
<p>Alur menurut kualitas: Alur Rapat.</p>
<p>Konflik: Internal: Ketika keluarga itu tak bisa makan.<br>
External: Orang gimbal ditodong pisau.</p>
<p>Karakter menurut bagiannya: Utama: Pak Yiad, Bu Yiko<br>
Minor: Kepala kantor polisi, tiga anak, orang berambut gimbal.</p>
<p>Karakter menurut perannya: Antagonist: Tidak ada.<br>
Protagonist: Semuanya.</p>
<p>Karakter menurut penjelasannya: Karakter langsung atau diceritakan dengan jelas.</p>
<p>Karakter menurut kepribadiannya: Karakter datar atau tokoh hanya memiliki satu kepribadian saja.</p>
<p>Tema: Sindiran terhadap pemerintah, karena pemerintah berjanji tapi tak ditepati.</p>
<p>Perwatakan: Pak Yiad: Tak pernah putus asa, jujur.<br>
Bu Yiko: Tak mementingkan diri sendiri, jujur.</p>
<p>Sudut pandang: Orang ke-III (Mereka)<br><br><br></p>
<p>Profil Penulis</p>
<p>Nama: Yosie Kristanto<br>
Tempat, tanggal lahir: Malang, 14 Januari 1995<br>
Alamat rumah: Jalan Danau Batur G1E no. 13, Malang.<br>
Sekolah: Charis National Academy.<br>
Alamat sekolah: Jalan Telaga Bodas 1-3, Malang<br>
Tugas: Project Bahasa Indonesia<br><br><br><br><br></p>
<p>Malang, 19 Mei 2007</p>

Yosie Kristanto
Tertolak

Oleh: Yosie Kristanto

Hatiku buta

Tak bisa melihat apa-apa

Bagai seseorang

Yang begitu bimbang

Ku tak bisa berpikir

Karna ku tlah tersingkir

Dari hati kau seorang

Yang telah hilang

Hatiku sedih

Hatiku perih

Ketika dia

Menolak kata

Meskipun……..

Aku tlah berkorban

Hanya untuk dia

Yang adalah cinta

Yosie Kristanto Senin, Juni 01, 2009
Ku Tak Tahu Tentang Semuanya

Oleh: Yosie Kristanto


Ku tak tau

Tentang filosofi kehidupan

Ku tak tau

Tentang filosofi cinta?


Inilah kenyataan

Yang akan kualami

Kenyataan………….

Yang begitu pahit


Buat apa aku hidup

Jika tanpa cinta

Buat apa cinta

Jika tanpa kamu


Buat apa semuanya

Semuanya kacau

Jika tidak ada cinta

Di hati kita


Ku tak memiliki cinta

Brarti aku kacau

Kacau balau

Seperti cinta yang gila ini


Persetan dengan cinta

Ku tak percaya cinta

Ku tak akan mencintai

Siapapun yang ada di hidup ini

Yosie Kristanto

Facebook