Pucuk thompson ini sudah menyentuh lehernya
Aku sudah mulai teriak-teriak minta penjelasan
"KAU DIKIRIM SIAPA?? BUAT APA KEMARI??!"
Dalam waktu dekat ini markas petinggi militer Indonesia seperti aku sering didatangi orang yang tak jelas. Memergoki mereka sedang ngintip, mencuri perbekalan, dan mencuri persenjataan kami.
Untung saja perasaanku sedang bagus kali ini. Kalau tidak, orang sebangsaku ini sudah tidak akan bernapas lagi. Orang-orang sebelumnya sudah dikuburkan di pekuburan masal di utara markas ini.
Kini, kami sedang merencanakan hal besar yang akan membebaskan Nusantara dari tangan wong Londho yang sudah tiga setengah abad membelenggu Indonesia. Persenjataan kami sudah cukup dari merampas milik Belanda. Bren, thompson, granat, LE, M1, dan bambu runcing milik kami sudah siap mebuat mereka lari lontang-lantung.
Markasku yang berpindah-pindah ini beralaskan tanah dan beratapkan horizon indah bertabur jutaan bintang. Yang pasti, langkah pertama kami adalah membebaskan kota Surabaya dan Malang. Dari pusat Jawa Timur tersebut, perlahan kami akan ke Semarang, lalu titik akhir kami adalah Batavia.
Kami tak pernah kehabisan tentara. Karena tiap hari setidaknya ada dua puluh pemuda yang datang.
"KAMI INGIN BERGABUNG! KAMI INGIN MEMBEBASKAN NUSANTARA!! "
Terkadang aku kasian pada mereka
Yang terlalu muda kupulangkan ke bapak ibunya
Mereka masih muda, tak tahu betapa gemetarnya ketika bunuh orang.
Perjalanan mereka masih panjang, tak seperti diriku yang sudah kepala lima.
Tapi kalau tak ada mereka, aku pun pasti sudah tak kokoh.
Pasti aku sudah memilih untuk pensiun dari militer.
Mereka adalah semangat.
Aku kadang berpikir.
Dari lahir pun aku sudah ditangan Belanda, matiku apa ditangan Belanda juga?
Dari kecil aku sudah bersekolah di sekolah Belanda. Terakhir di STOVIA.
Ayah ibuku juga lahir di tangan Belanda. Bahkan, di kelahiran ayahku, ada beberapa petinggi Belanda yang datang. Hal itu dikarenakan darah biru yang mengalir dalam nadi keluargaku.
Malam sudah larut, hari inipun berakhir. Untung saja cuma ada satu masalah hari ini. Dan paling melegakan, aku tidak mencabut kehidupan orang hari ini.