Kesetiaan Rumero

Kakek: “Dia Anakku”
Suara itu muncul dari seorang kakek tua yang adalah ayah dari Rumero.
Kakek: “Anakku , mengapa sejarah harus begini?”
Kakek: “Semua orang tak tahu mana yang penjahat dan mana yang pahlawan”
“ Mengapa kebenaran harus kalah, anakku”
Seseorang menatap lelaki tua itu, dia sahabat Romero. Lalu dia melemparkan sebuah kain putih yang kusam. Lalu dia pergi ke bukit untuk melihat eksekusi dari sana. Mungkin dia tidak mampu menahan kesedihannya.
Lelaki tua yang bagai titik hitam menoleh ke belakang, seakan tak mau melihat eksekusi.
Lalu Sahabat Romero itu berteriak.
Sahabat: “Romero tak berbapak dan beribu. Kini dia sudah tiada. Tiada seorangpun yang
bisa meneruskan perjuangannya.”

Dia menangis. Sebuah kecengengan yang dia tak kutahan demi sebuah penghormatan kepada seorang rekan yang berjuang. Tangannya merogoh kantung yang tergantung di pinggang. Selembar surat dari Rumero, saat Rumero pergi. Sebulan menjelang kematian yang mengerikan: eksekusi.

Buat Dermandez, saudaraku di dalam perjuangan suci,
Aku memang menginginkan engkau membacakan surat ini saat engkau mendapati aku telah pergi dengan nyawaku. Tak ada yang lebih diinginkan oleh orang yang berada di depan garis depan perjuangan, kecuali meninggalkan pesan melalui surat buat seorang yang dekat. Aku tak punya kekasih, Mandes: kecuali Tuhan. Demikianlah, aku percaya engkau akan membacakan surat ini. Surat yang diberikan aleh seorang pejuang kepada pejuang muda yang aku yakin akan meneruskan suara lati nurani ini. Aku terlalu tua, Mandes. Terlalu lemah dan tak lagi sigap juga :ekatan dalam berjuang.
Di distrik Rumeira, aku lahir dan dibesarkan oleh kemanjaan kanak. Waktu kemudian nembawaku pada sebuah pilihan. Meninggalkan ayah yang terus menangisi ibu yang adi korban perkosaan penguasa busuk yang memberikanku seribu dendam. Ibuku /ang bunuh diri demi keinginannya untuk mempertahankan sebuah kesucian.
5urat ini kutitipkan melalui kurir muda yang aku percaya, Mandes. Kurir yang cuharapkan engkau pun akan memberinya ilmu perjuangan kelak. Memberikanya lurani untuk membela orang yang lemah. Tuhan bersama kita, Mandes. Karena itu uga, aku mengharapkan engkau datang walau hanya untuk satu tujuan yang ;ekejap. Melepasku dengan doa dan salam perjuangan. Engkau selalu bersama Tuhanmu dan tangisan rakyat yang meniadi peluru bagi perjuangan kita.
Rumero sudah dieksekusi. Lalu sahabatnya pun menuruni bukit untuk membawa mayat Rumero. Rupanya Rumero sudah dibawa oleh lelaki tua den berkata.
Kakek: “Dia anakku. Anakku Tuhan.”
Sahabat Rumero memanggul Rumero.

Terlalu banyak cerita di masa depan yang belum terjawab. Bisa jadi kami pun akan digantung nanti. Bisa jadi mayat si bapa atau mayatku atau juga akan terseret seperti ini. Atau lebih parah, dimakan daging dan bola matanya oleh burung nazar sebagaimana mayat-mayat para pejuang tak dikenal yang pernah kam lihat sebelumnya di setiap distrik para penguasa lalim. Di masa depan, barangkali masih ada pembunuhan yang juga akan dilakukan secara diam-diam. Terhadap manusia. Terhadap para pahlawan yang dianggap sebagai bajingan karena berteriak tentang kebenaran dan Tuhan.
Sahabat: "Sebentar lag! kita tiba di bukit itu, Bapa. Di antara pohon-pohon pinus kering, jenazah pahlawan kita baringkan,"
Si Bapa mengangguk. Aku juga mengangguk.
Sebentar lagi badai berpasir, kami harus cepat menimbun si mayat dalam-dalam sebelum badai dan burung nazar tahu bahwa di tempat ini baru saja ada kematian.

di modifikasi oleh:yosie
alex
bella
angel

Tidak ada komentar

Facebook