Lelaki Berambut Gimbal

<p>Suatu hari hiduplah sebuah keluarga yag sangatlah miskin. Mereka tidak punya apapun. Untuk dijual pun tak ada. Di keluarga itu ada 6 orang anak yang diasuh oleh Pak Jiad dan Bu Yiko. Anak-anak itu tidak besekolah, tapi beberapa dari mereka seharusnya sangatlah pintar jika disekolahkan. Setiap hari mereka menganggur di rumahnya yang lusuh. Tidak melakukan apapun juga. Suatu hari pemerintah berjanji kalau akan diadakan bantuan raskin. Pak Yiad dan Bu Yiko sebenarnya tak mau mengambil raskin tersebut karena mereka sudah berkali-kali datang tapi tak dapat, tetapi anaknya memaksa karena ank-anak tersebut lapar. Akhirnya, Pak Yiad dan Bu Yiko berangkat ke tempat yang dijanjikan oleh pemerintah.</p>
<p>Anak-anak Pak Yiad dan Bu Yiko menunggu dengan perut keroncongan. Sementara itu, Pak Yiad dan Bu Yiko terjbak dan memanggang diri mereka sendiri di tengah kerumunan orang yang ramai dan di tengah terik matahari. Di sana ketika tinggal satu orang mengantri di depan mereka, ada seorang lelaki sinting yang berambut gimbal menerombol barisan depan. Pak Yiad yang saat itu tak bisa menahan emosi langsung mengeluarkan pisau sederhana yang ada di ikat pinggangnya itu. Lelaki sinting itu tak tau bahwa yang dipegang Pak Yiad adalah pisau, jadi dia tetap saja ngeloyor malahan dia mengambil dan memakainya untuk memotong rambutnya yang gimbal. Karena lelaki sinting itu Pak Yiad rugi besar karena selain mereka belum dapat raskin, Pak Yiad juga kehilangan pisau kesayangannya, lenyap ditelan bumi.</p>
<p>Semua orang mendapat giliran, semua orang dapat makan nasi hari ini. Yang kaya, yang miskin. Seharusnya oang miskin saja yang diberi raskin, tidak orang-orang yang kaya. Malamnya Pak Jiad dan Bu Yiko pulang dengan membawa beras sekantong dan segera memasaknya dengan keluarga. Sekeluarga sudah kenyang nasi itu lenyap atau habis. Mereka memakai setengah kantong beras untuk nasi yang mereka makan, sisa setengah kantong, untuk besok.</p>
<p>Paginya, keluarga itu kebingungan karena nasi yang tinggal setengah kantong lenyap dan mereka menemukan uang 50.000 rupiah yang jatuh di depan rumah mereka. Keluarga itu tidak mau lancang, mengambil barang milik orang. Mereka segera ke kantor polisi yang sepi dan melaporkan bahwa mereka menemukan uang sejumlah 50.000 rupiah. Kepala polisi itu kagum oleh kejujuran keluarga itu dan meminta nama mereka. Malamnya, keluarga itu kelaparan karena mereka tak memiliki beras atau apapun untuk mereka masak.</p>
<p>Keesokan harinya, mereka menemukan uang berjumlah 100.000 rupiah di depan rumahnya. Lalu mereka melaporkan hal yang aneh itu kepada kepala polisi. Mereka mengeluh kepada kepala polisi kalau mereka tak memiliki beras untuk dimasak. Mereka dengar ada pembagian raskin lagi, besok.</p>
<p>Esok harinya, Pak Yiad pergi ke kantor kelurahan untuk mengambil raskin, Bu Yiko sakit dan tidak bisa mengantarkan Pak Yiad yang mengambil raskin. Hari itu keluarga itu tidak mendapat raskin karena kehabisan jatah. </p>
<p>Esoknya, keluarga Pak Yiad dipanggil ke kantor polisi dan disuruh menghadap kepala polisi. Kepala polisi berterima kasih kepada Pak Yiad karena Pak Yiad telah menyadarkan orang berambut gimbal yang ternyata seorang pengusaha itu. Pak Yiad segera diberi hadiah oleh orang berambut gimbal itu dan boleh tinggal di rumah orang berambut gimbal itu.</p>
<p>Keluarga Pak Yiad sangatlah bahagia. Setiap hari mereka makan daging sapi yang lezat. Aku melihatnya, melihat kebagiaan di wajah seseorang. Kebahagiaan yang tak biasa tertandingi. Tiap hari mereka mandi dan memakai minyak wangi yang sangat wangi. Sedangkan aku, tinggalah kenangan.<br><br><br></p>
<p>Keterangan</p>
<p>Alur menurut kuantitas: Alur Ganda.</p>
<p>Alur menurut kualitas: Alur Rapat.</p>
<p>Konflik: Internal: Ketika keluarga itu tak bisa makan.<br>
External: Orang gimbal ditodong pisau.</p>
<p>Karakter menurut bagiannya: Utama: Pak Yiad, Bu Yiko<br>
Minor: Kepala kantor polisi, tiga anak, orang berambut gimbal.</p>
<p>Karakter menurut perannya: Antagonist: Tidak ada.<br>
Protagonist: Semuanya.</p>
<p>Karakter menurut penjelasannya: Karakter langsung atau diceritakan dengan jelas.</p>
<p>Karakter menurut kepribadiannya: Karakter datar atau tokoh hanya memiliki satu kepribadian saja.</p>
<p>Tema: Sindiran terhadap pemerintah, karena pemerintah berjanji tapi tak ditepati.</p>
<p>Perwatakan: Pak Yiad: Tak pernah putus asa, jujur.<br>
Bu Yiko: Tak mementingkan diri sendiri, jujur.</p>
<p>Sudut pandang: Orang ke-III (Mereka)<br><br><br></p>
<p>Profil Penulis</p>
<p>Nama: Yosie Kristanto<br>
Tempat, tanggal lahir: Malang, 14 Januari 1995<br>
Alamat rumah: Jalan Danau Batur G1E no. 13, Malang.<br>
Sekolah: Charis National Academy.<br>
Alamat sekolah: Jalan Telaga Bodas 1-3, Malang<br>
Tugas: Project Bahasa Indonesia<br><br><br><br><br></p>
<p>Malang, 19 Mei 2007</p>

4 komentar

Kamal Hayat mengatakan...

Selamat yaa jadi artis..hehe

Anonim mengatakan...

Keren kak yos (y)
Sukses terus yaa kak yos :D
Congratulations :)

Anonim mengatakan...

Congratulation kak yos
Tetap semangat yaa :D

Unknown mengatakan...

kok jarang ngeposting ??

Facebook